Senin, 25 Oktober 2010

Kemuliaan Membaca Surat Al Ikhlas. (Bagian 3)

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Diriwayatkan pula dalam Shahih Al Bukhari bahwa Al Imam Masjid Quba' setelah membaca Al Fatihah selalu membaca surat Al Ikhlas kemudian dilanjutkan dengan surat yang lainnya, maka ia diprotes oleh makmumnya karena hal ini, maka sang imam berkata: "jika engkau masih menginginkan aku untuk menjadi imam, maka aku akan terus melakukan hal ini, jika tidak carilah imam yang lain", maka si makmum mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "wahai Rasulullah, tidak pernah engkau mengajarkan kepada kami untuk selalu membaca surat Al Ikhlas setelah Al Fatihah, namun imam itu melakukannya". Zaman sekarang hal seperti ini disebut sebagai bid'ah, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada sang imam: "Mengapa engkau melakukan hal itu wahai imam masjid Quba, padahal aku tidak pernah mengajarkannya?", maka sang imam menjawab dengan singkat : إِنِّيْ أُحِبُّهَا (sungguh aku mencintai surat Al Ikhlas), maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab : "cintamu pada surat Al Ikhlas membutamu masuk kedalam surga Allah". Karena mencintai kalimatt هُوَ اللهُ أَحَدٌ, Dialah (Allah) Yang Maha Tunggal, maka jadikanlah Dia tunggal di dalam jiwa kita di saat kita berdzikir kepada Allah, di saat kita shalat, di saat kita berdoa dan bermunajat, hilangkan semua nama dari hati kita kecuali nama اللهُ أَحَدٌ هُوَ. Jadikan nama itu menguasai jiwa dan sanubarimu melebihi segalanya, maka akan engkau lihat Allah menundukkan seluruh makhluknya kepadamu karena jiwamu telah tunduk kepada rahasia keluhuran هُوَ اللهُ أَحَدٌ .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Janganlah sampai kita terjebak dengan kejadian-kejadian yang yang tidak kita sukai, karena Allah subhanahu wata'ala telah memberi peringatan dengan firman-Nya:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

(البقرة :216 )

"Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah: 216)

Barangkali kita melihat suatu hal adalah baik untuk kita, padahal itu adalah bara api, seperti anak kecil yang ingin mendekati bara api itu yang dikiranya mainan belaka. Begitu pula anak kecil menjerit ketika melihat ibunya begitu jahat menusuk dan menyakitinya, padahal itu adalah obat yang disuntikkan kepadanya sebagai bentuk kasih sayang sang ibu. Oleh sebab itu di saat kita dalam kesusahan maka berhati-hatilah karena mungkin dibalik semua itu ada hikmah Ilahi yang lebih luhur jika kita syukuri kenikmatan yang ada walaupun sebagian kenikmatan hilang. Sebagaimana Allah sangat tidak tega kepada hamba-Nya terutama mereka yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Orang yang mencintai dan rindu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka ia dalam keamanan dan keselamatan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Diriwayatkan oleh hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi 'Iyadh di dalam kitabnya "As Syifa" bahwa ketika sayyidina Anas bin Malik RA menziarahi seorang wanita yang telah wafat seorang putranya, dia adalah seorang wanita tua renta yang buta, dia hijrah dari Makkah Al Mukarramah ke Madinah Al Munawwarah bersama putranya, dan ia tidak mempunyai keluarga yang lain, karena keluarga yang lain berada di Makkah. Untuk makan saja dia harus disuapi oleh anaknya, dan segala kebutuhannya diurus oleh anaknya, kemudian anaknya wafat. Dan ketika para sahabat menjenguknya, diantaranya sayyidina Anas bin Malik, maka berkatalah wanita buta dan tua renta itu : " Benarkah anakku telah wafat?", sayyidina Anas bin Malik berkata: "Betul, namun engkau tenanglah karena anakmu sudah dimandikan dan dikafani, dan sebentar lagi akan dishalati kemudian dimakamkan", maka wanita itu menangis mengangkat tanganya dan berkata :

اَللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّيْ هَاجَرْتُ إِلَيْكَ وَإِلَى نَبِيِّكَ فَلاَ تُحَمِّلْنِيْ هَذِهِ الْمُصِيْبَةَ

" Wahai Allah jika Engkau mengetahui bahwa aku hijrah kepada-Mu dan nabi-Mu, maka janganlah Engkau bebankan musibah ini kepadaku".

Dan belum selesai wanita itu berdoa maka anaknya bangun dan tidak lama kemudian anaknya kembali menyuapi ibunya. Demikian rahasia cinta kepada sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Demikian indahnya ketakwaan dan indahnya Allah subhanahu wata'ala. Diriwayatkan di dalam kitab 'Izhah Asraar Al Muqarrabin oleh As Sayyid Al Arif billah Al Imam Muhammad bin Abdullah bin Syech Al Aidarus Ba'alawy, bahwa ketika salah seorang rahib (ulama) di masa bani Israil telah menulis 860 kitab, dan karangannya sudah tersebar dimana-mana, dan ia pun gembira dengan amal baiknya, maka Allah wahyukan kepada nabi di zaman itu untuk menyampaikan pada rahib itu bahwa Allah belum ridha dengan apa yang telah dia lakukan, maka rahib itu terkejut ketika mendengar yang telah disampaikan oleh nabinya bahwa Allah belum ridha dengan amalannya. Maka ia pun melempar buku karangannya itu kemudian ia menyendiri saja di dalam goa untuk beribadah selama bertahun-tahun, lalu Allah kembali menyampaikan wahyu kepada nabi di zaman itu untuk menyampaikan kepada rahib bahwa Allah belum ridha dengan perbuatannya, maka ketika disampaikan kepada rahib itu ia berkata: "Lalu aku harus berbuat apa lagi, aku menulis ratusan kitab Allah belum meridhai, aku menyendiri untuk beribadah kepada-Nya Allah belum meridhaiku". Maka dalam keadaan risau dan bingung ia berjalan saja hingga sampailah ia di pasar ia membantu orang tua yang keberatan membawa beban, ia menciumi kepala anak yatim dan menyantuninya, maka Allah sampiakan wahyu kepada nabi di masa itu : "Katakan kepada hamba-Ku bahwa Aku telah ridha kepadanya". Apa yang menjadikan Allah ridha kepadanya? yaitu terjun ke masyarakat untuk membantu yang lemah dan susah, membantu para fuqara' dan anak-anak yatim, hal itu lah yang paling masyhur dari tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, bukti dari rahasia keridhaan Ilahi yang terluhur. Demikian budi pekerti orang yang paling luhur dan paling diridhai Allah, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar