Minggu, 07 November 2010

Allah swt Tidak Akan Mengecewakan Rasulullah saw. (Bagian 3)

Di dalam ayat lainnya Allah berfirman :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

(الفتح : 18)

" Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia (Allah) mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka, dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat" ( QS. Al Fath : 18 )

Allah subhanahu wata'ala telah ridha dengan orang-orang yang telah bersumpah setia kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di bawah pohon, yaitu dalam bai'at ar ridwan (perjanjian hudaibiyah). Allah mengetahui kekecewaan hati mereka, kemudian Allah turunkan ketenangan di hati mereka dan bagi mereka akan datang kemenangan dalam waktu dekat. Sebelum ayat ini turun, Rasulullah keluar dari kemah dan mengajak para sahabat untuk menyembelih hewan kurban disana lalu mencukur rambut disana, namun para sahabat hanya diam dan tidak satu pun yang bergerak, mereka merasa kebingungan dengan keputusan rasulullah karena selalu menyetujuinya permintaan kuffar quraisy, bagaimana jika mereka akan meminta perjanjian yang lebih dahsyat lagi, mengapa Rasulullah selalu setuju dengan musuh-musuhnya, menjatuhkan muslimin dan membela musuh-musuhnya, para sahabat kebingungan dan tidak ada yang bergerak dari tempatnya, maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam kemah dan menjumpai istrinya, Ummu Salamah RA, dan berkatalah Ummu Salamah RA : "wahai Rasulullah jangan bersedih, jika mereka tidak mau menyembelih hewan kurban disini dan mencukur rambut disini, engkau lakukanlah sendiri maka mereka pasti akan mengikuti apa yang engkau perbuat, serisau-risaunya mereka, mereka tetap mencintaimu wahai rasulullah". Maka rasulullah keluar tanpa berbicara satu kalimat pun, kemudian beliau mulai mencukur rambutnya dan menyembelih hewan kurbannya, maka satu persatu para sahabat mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Di sore itu telah turun ayat firman Allah subhanahu wata'ala:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

( الفَتْح: 27 )

" Sungguh Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki masjidil haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman , dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia (Allah) telah memberikan kemenangan yang dekat " (QS. Al Fath: 27)

Demikianlah ayat yang turun untuk 1400 muslimin yang ada dalam perjanjian Hudaibiyah. Disaat itu kaum muslimin dalam kehausan dan kebingungan, maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengambil wadah air kemudian beliau berwudhu, dan para sahabat telah berkerumun dihadapan rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau berkata: "Mengapa kalian berkumpul disini?", mereka berkata: "wahai rasulullah, tidak ada lagi air kecuali ini, semua perbekalan kami sudah habis" , maka rasulullah menaruhkan tangannya di wadah itu, dan mengalirlah air dari jari-jari beliau. Maka para sahabat meminumnya dan berwudhu dengan air itu. Mereka berkata : "kami berwudhu dan minum sepuasnya dimana jumlah kami 1400, jika jumlah kami 100000 pun pastilah mencukupinya" . Maka di malam itu sayyidina Umar datang ke kemah rasulullah dan memberikan pertanyaan kepada rasulullah namun beliau tidak menjawabnya, sayyidina Umar mengulang pertanyaannya hingga 3 kali tetapi rasulullah tetap diam. Kemudian sayyidina Umar keluar dari kemah rasulullah dan berkata pada dirinya : "sungguh akan celaka diriku, berkali-kali aku bertanya kepada rasulullah namun beliau tetap diam, pastilah akan turun ayat yang akan menegur perbuatanku", tidak beberapa lama setelah keluar dari kemah rasulullah, seorang sahabat memanggilnya : "wahai Umar, kembalilah karena telah turun ayat". Sayyidina Umar risau dan khawatir karena mengira pastilah ayat itu turun untuk menegur perbuatannya. Maka rasulullah berkata : "malam ini telah turun ayat yang lebih kusenangi daripada terbitnya matahari", sayyidina Umar bertanya : "ayat apa wahai Rasulullah?" , maka rasulullah membacakannya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

(الفَتْح: 1-3 )

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)" (QS. Al Fath: 1-3 )

Maka sayyidina Umar berkata : "apakah ini adalah tanda bahwa akan ada fath Makkah wahai Rasulullah?" , Rasulullah berkata : "iya, betul" . Ayat ini turun pada tahun ke 6 H, dan 2 tahun kemudian tepatnya tahun ke 8 H di bulan ramadhan terjadi Fath Makkah tanpa ada kekerasan dan peperangan, Makkah Al Mukarramah dimasuki oleh seluruh kaum muslimin. Kejadian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa'dah tahun ke 6 H, setelah itu terjadi Fath Makkah pada tahun ke 8 H, dan ada juga kejadian-kejadin lainnya yang terjadi pada bulan Dzulhijjah diantaranya hajjah al wada'.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar